Situs Candi Baru Ditemukan di Sleman, Tersembunyi di Bawah Rumah Warga

Penemuan bersejarah kembali menghebohkan masyarakat Yogyakarta ketika sebuah situs candi baru ditemukan secara tidak sengaja di wilayah Sleman. Struktur bangunan yang terbuat dari batu andesit tersebut terungkap saat seorang warga tengah melakukan penggalian untuk renovasi fondasi rumahnya. Tim ahli dari Balai Pelestarian Kebudayaan segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan ekskavasi awal dan memastikan luas cakupan bangunan purbakala ini. Penemuan ini menambah daftar panjang kekayaan arkeologi di Sleman yang selama ini memang dikenal sebagai daerah pusat peradaban Mataram Kuno yang sangat megah.

Berdasarkan analisis awal terhadap ukiran dan relief yang terdapat pada situs candi baru tersebut, para arkeolog menduga bangunan ini berasal dari abad ke-9 atau ke-10 Masehi. Meskipun sebagian besar struktur masih tertimbun tanah sedalam beberapa meter, bentuk kemuncak candi yang muncul ke permukaan menunjukkan kemiripan dengan gaya arsitektur candi-candi Hindu-Buddha yang ada di sekitarnya. Yang menarik, kondisi batuan yang ditemukan masih tergolong sangat baik dan minim kerusakan, memberikan harapan besar bagi para peneliti untuk mengungkap sejarah lengkap mengenai fungsi bangunan tersebut pada masa lampau.

Proses ekskavasi terhadap situs candi baru ini dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga integritas struktur bangunan yang masih terkubur. Pihak berwenang juga telah memasang garis pengaman di sekitar lokasi penemuan guna mencegah kerusakan akibat banyaknya warga yang datang karena penasaran. Pemerintah daerah setempat berencana untuk melakukan pembebasan lahan jika hasil penelitian menunjukkan bahwa situs ini merupakan kompleks percandian yang besar dan memiliki nilai sejarah yang sangat krusial bagi pendidikan serta identitas budaya masyarakat Jawa pada umumnya.

Keberadaan situs candi baru di bawah pemukiman padat penduduk menjadi tantangan tersendiri bagi tim teknis di lapangan. Hal ini memerlukan koordinasi yang intensif antara pihak arkeolog, pemerintah, dan warga pemilik lahan agar proses penyelamatan cagar budaya tidak merugikan kepentingan sosial masyarakat sekitar. Namun, antusiasme masyarakat justru sangat tinggi, di mana banyak warga yang bersedia membantu proses pembersihan tanah secara sukarela demi melihat kembali kemegahan warisan leluhur yang sempat tersembunyi selama berabad-abad di bawah lapisan tanah vulkanik.