Proses Lipatan Kain Tutup Kepala Blangkon Tradisional Pria Mataram
Kain Tutup kepala tradisional pria yang populer dengan sebutan blangkon merupakan salah satu elemen kelengkapan busana adat Jawa bergaya Mataram yang sarat akan nilai-nilai filosofi tatanan kehidupan. Pada zaman dahulu, penutup kepala ini dibuat secara langsung dari lipatan helai kain batik berbentuk persegi (ikat atau udheng) yang dilipat dan diikatkan secara teliti di atas kepala sang pemakainya. Keahlian merangkai dan melipat kain batik menjadi bentuk penutup kepala yang rapi dan pas ini membutuhkan tingkat ketelitian, kesabaran, serta pemahaman mendalam mengenai aturan adat warisan Kesultanan Mataram.
Proses pembuatan penutup kepala tradisional ini diawali dengan menyiapkan lembaran kain batik tulis atau batik cap yang memiliki motif khas Mataram seperti motif parang, modang, atau ksatrian. Kain batik tersebut kemudian dipotong dan dilipat secara berulang kali membentuk garis-garis lipatan tajam yang teratur di bagian samping kanan dan samping kiri penutup kepala. Setiap garis lipatan melambangkan tingkatan kepribadian serta kerapian sikap hidup seorang pria Jawa yang harus selalu teratur, tenang, dan memegang teguh norma kesopanan dalam bermasyarakat.
Ciri khas paling menonjol pada penutup Kain Tutup kepala style Mataram (Yogyakarta) adalah keberadaan bentukan benjolan bulat di bagian belakang yang disebut sebagai mondholan. Mondholan ini terbentuk dari lipatan sisa ujung kain batik yang digulung rapi berbentuk bulat menyerupai bentuk onde-onde. Secara filosofis, bentukan benjolan di belakang kepala ini melambangkan pandai menyimpan rahasia pribadi, ketenangan emosi, serta kebiasaan pria Jawa dalam menyembunyikan keburukan orang lain serta menahan hawa nafsu di dalam kehidupan bermasyarakat.
Seiring berjalannya waktu, proses merangkai penutup kepala tradisional ini bertransformasi menjadi bentuk penutup kepala siap pakai yang praktis dengan menggunakan cetakan cetakan kepala berbahan kayu. Pengrajin blangkon tradisional di wilayah Jogja tetap melestarikan teknik lipatan tangan manual secara cermat dengan menambahkan bahan penguat karton atau lem alami pada bagian dalam kain agar bentuk lipatan terkesan tegap dan tidak mudah berubah bentuk. Keindahan visual dari lipatan kain batik yang simetris menjadikannya sebagai aksesoris busana pria yang sangat anggun dan berwibawa.
Mengenal lebih dalam proses rumit di balik lipatan Kain Tutup kepala blangkon pria khas Mataram ini semakin menumbuhkan kekaguman kita akan tingginya kebudayaan seni kriya tradisional Jawa. Penutup kepala ini bukan sekadar pelindung kepala dari panas matahari biasa, melainkan simbol kehormatan, kerapian, serta kedalaman ajaran filosofi hidup pria Jawa. Pelestarian kerajinan pembuatan blangkon tradisional ini wajib terus dijaga agar keanekaragaman identitas budaya Indonesia tetap lestari dan selalu dibanggakan oleh seluruh warga masyarakat tanah air.