Masjid Bersejarah Jogja Terhimpit Megahnya Hotel Modern
Yogyakarta memang dikenal sebagai kota yang penuh dengan nilai sejarah dan religius, tapi modernisasi kadang membawa tantangan yang pelik. Saat ini, banyak bangunan Masjid Bersejarah di Jogja yang posisinya makin “terjepit” di antara kepungan hotel berbintang dan gedung perkantoran yang megah. Bangunan masjid yang dulunya punya halaman luas dan udara yang lapang, kini harus bersaing dengan bayangan gedung tinggi yang menjulang tepat di sampingnya. Pemandangan ini bikin banyak warga dan pecinta sejarah merasa sedih, karena estetika bangunan tua yang penuh filosofi itu seolah tertelan oleh gaya hidup modern yang serba beton.
Perubahan wajah kota ini bikin suasana ibadah di dalam masjid jadi terasa berbeda, terutama soal kenyamanan dan pencahayaan alami. Akibat dari posisi Masjid Bersejarah yang terkepung gedung tinggi, sirkulasi udara di sekitar masjid jadi kurang lancar dan kadang malah terasa gerah kalau nggak pakai AC tambahan. Selain itu, akses jalan menuju masjid yang dulunya mudah, sekarang sering kali jadi sempit karena terpakai buat jalur masuk kendaraan tamu hotel atau parkiran yang nggak beraturan. Hal ini tentu jadi tantangan besar buat para pengurus masjid (takmir) dalam mempertahankan kegiatan rutin tanpa harus keganggu sama kebisingan dari luar.
Dampak dari pembangunan yang kurang memperhatikan zonasi warisan budaya ini bikin nilai-nilai tradisi perlahan mulai memudar. Masalah Masjid Bersejarah yang terhimpit ini juga jadi bahan diskusi panjang di kalangan budayawan yang pengen Jogja tetap punya jati diri aslinya. Jangan sampai demi alasan kemajuan pariwisata dan ekonomi, situs-situs suci yang punya cerita panjang soal penyebaran agama di Jawa malah diabaikan begitu saja. Banyak orang yang kangen dengan suasana Jogja yang tenang, di mana suara azan bisa berkumandang bebas tanpa terhalang dinding-dinding kaca hotel yang dingin.
Beberapa pihak sebenarnya sudah mengusulkan supaya ada aturan ketat soal jarak aman pembangunan gedung besar di sekitar situs cagar budaya. Meskipun Jogja butuh investasi, tapi keberadaan Masjid Bersejarah harus tetap diprioritaskan sebagai bagian dari jiwa kota yang nggak boleh hilang. Kerjasama antara pemilik hotel dan pihak masjid bisa jadi jalan tengah, misalnya dengan membantu perawatan masjid atau memastikan tamu hotel tetap menghormati waktu-waktu ibadah. Dengan begitu, kemajuan zaman dan kelestarian tradisi bisa berjalan beriringan tanpa harus ada yang merasa dikorbankan atau dipinggirkan.