Archives 03/05/2025

Mensos Gus Ipul Tinjau Calon Lokasi Sekolah Rakyat di Jogja: Upaya Pemberdayaan Komunitas Marginal

Menteri Sosial (Mensos) Gus Ipul baru-baru ini melakukan kunjungan kerja ke Yogyakarta untuk meninjau calon lokasi pendirian Sekolah Rakyat. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memberdayakan komunitas marginal melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan. Kunjungan ini menandai komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang kurang beruntung, khususnya di wilayah Yogyakarta yang memiliki potensi keragaman budaya dan permasalahan sosial yang kompleks.  

Sekolah Rakyat yang direncanakan ini akan menjadi pusat pembelajaran non-formal yang menawarkan berbagai program pendidikan dan pelatihan keterampilan. Tujuannya adalah untuk memberikan akses pendidikan yang setara bagi anak-anak dan remaja dari keluarga kurang mampu, serta meningkatkan keterampilan masyarakat dewasa agar memiliki daya saing di pasar kerja. Program-program yang akan ditawarkan mencakup pendidikan dasar, pelatihan keterampilan vokasional, serta pengembangan kewirausahaan.

Dalam kunjungannya, Mensos Gus Ipul meninjau beberapa lokasi yang dianggap potensial untuk pendirian Sekolah Rakyat. Beliau berdiskusi dengan para tokoh masyarakat, akademisi, dan perwakilan organisasi non-pemerintah untuk mendapatkan masukan dan memastikan bahwa program ini sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat. Lokasi yang dipilih diharapkan dapat diakses dengan mudah oleh target sasaran dan memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

Pendirian Sekolah Rakyat ini sejalan dengan visi pemerintah dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan sosial. Pendidikan dan pelatihan keterampilan merupakan kunci untuk memutus rantai kemiskinan dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua warga negara untuk berkembang. Dengan memiliki keterampilan yang relevan, masyarakat marginal dapat meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup mereka.

Selain memberikan pendidikan dan pelatihan keterampilan, Sekolah Rakyat juga akan menjadi pusat kegiatan komunitas. Di sini, masyarakat dapat saling bertukar informasi, berbagi pengalaman, dan membangun jaringan sosial. Sekolah Rakyat diharapkan dapat menjadi katalisator bagi perubahan sosial yang positif dan memperkuat solidaritas antar warga.

Kunjungan Mensos Gus Ipul ke Jogja ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam merealisasikan program Sekolah Rakyat. Pemerintah berkomitmen untuk bekerja sama dengan semua pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta, untuk memastikan bahwa program ini berjalan sukses dan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat.

Pria Mabuk Tewas Dipukuli Teman dan Menabrak Tembok, Jojga

Kabar duka menyelimuti Yogyakarta setelah seorang pria mabuk tewas dalam serangkaian kejadian tragis pada Sabtu dini hari, 3 Mei 2025. Korban, yang kemudian diidentifikasi sebagai Roni (28), diduga kuat menjadi korban pemukulan oleh temannya sendiri sebelum akhirnya mengalami kecelakaan tunggal yang merenggut nyawanya.

Menurut keterangan dari pihak Kepolisian Sektor Gondomanan, kejadian bermula ketika Roni dan beberapa temannya terlibat dalam sebuah pesta minuman keras di sebuah warung angkringan di kawasan Malioboro. Sekitar pukul 01.30 WIB, terjadi percekcokan antara Roni dan salah seorang temannya, yang berujung pada aksi pemukulan. Saksi mata di lokasi kejadian menuturkan bahwa Roni sempat terjatuh akibat pukulan tersebut.

Setelah kejadian pemukulan, Roni yang dalam kondisi pria mabuk tewas kemudian meninggalkan lokasi dengan mengendarai sepeda motornya seorang diri. Nahas, sekitar pukul 02.00 WIB, motor yang dikendarai Roni hilang kendali dan menabrak tembok pembatas jalan di Jalan Brigjen Katamso. Warga sekitar yang mendengar benturan keras segera mendatangi lokasi dan menemukan Roni tergeletak di jalan dengan luka parah di kepala.

Petugas kepolisian dari Unit Lakalantas Polresta Yogyakarta yang tiba di lokasi kejadian segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Mereka menemukan sejumlah bukti yang mengindikasikan bahwa sebelum kecelakaan terjadi, korban memang dalam kondisi di bawah pengaruh alkohol. Selain itu, luka memar di beberapa bagian tubuh korban juga menguatkan dugaan adanya tindak kekerasan sebelum kecelakaan.

Kapolsek Gondomanan, Kompol Agus Riyanto, dalam keterangan persnya membenarkan adanya laporan mengenai pria mabuk tewas tersebut. “Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kedua kejadian ini. Dugaan sementara, korban mengalami pemukulan sebelum akhirnya mengalami kecelakaan tunggal. Kami telah mengamankan beberapa saksi untuk dimintai keterangan,” ujarnya.

Saat ini, jenazah Roni telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Yogyakarta untuk dilakukan visum et repertum guna mengetahui penyebab pasti kematiannya. Pihak kepolisian juga tengah melakukan pengejaran terhadap teman korban yang diduga melakukan pemukulan. Kasus ini menjadi pengingat akan bahaya minuman keras dan pentingnya pengendalian diri, serta konsekuensi tragis yang bisa timbul akibatnya. Masyarakat diimbau untuk tidak main hakim sendiri dan menyerahkan penanganan kasus ini sepenuhnya kepada pihak berwajib. Polisi juga mengimbau kepada masyarakat yang memiliki informasi terkait kejadian ini untuk segera melapor ke kantor polisi terdekat.

Aliansi Jogja Memanggil Gelar Aksi Tolak UU TNI di Depan Gedung Agung Yogyakarta

Aliansi Jogja Memanggil, sebuahFront yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat sipil dan mahasiswa di Yogyakarta, kembali menggelar aksi tolak UU TNI di depan Gedung Agung, Istana Kepresidenan Yogyakarta. Aksi ini merupakan kelanjutan dari serangkaian demonstrasi yang dilakukan untuk menyuarakan penolakan terhadap pengesahan UU TNI yang dinilai kontroversial dan berpotensi mengancam kehidupan sipil serta prinsip-prinsip demokrasi.

Dalam aksinya di depan Gedung Agung, Aliansi Jogja Memanggil menyampaikan sejumlah tuntutan terkait UU TNI. Mereka menyoroti pasal-pasal dalam undang-undang tersebut yang dianggap memberikan kewenangan berlebihan kepada militer dalam ranah sipil, memperluas jabatan sipil yang dapat diisi oleh anggota TNI aktif, dan berpotensi mengembalikan dwifungsi ABRI di masa lalu yang represif. Massa aksi menilai bahwa UU TNI yang baru disahkan ini akan mengancam supremasi sipil dan mempersempit ruang gerak demokrasi di Indonesia.

Demonstrasi yang digelar Aliansi Jogja Memanggil ini tidak hanya diisi dengan orasi-orasi yang lantang menyuarakan penolakan terhadap UU TNI. Berbagai bentuk ekspresi seni dan teatrikal juga ditampilkan sebagai simbol perlawanan dan keprihatinan terhadap arah kebijakan negara terkait peran militer. Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan berbagai tuntutan dan kritik terhadap UU TNI.

Aliansi Jogja Memanggil menegaskan bahwa aksi ini merupakan wujud kepedulian masyarakat sipil terhadap masa depan demokrasi di Indonesia. Mereka menyerukan kepada pemerintah dan DPR untuk meninjau kembali UU TNI dan mengakomodasi aspirasi masyarakat sipil yang merasa terancam dengan perluasan peran militer di luar fungsi pertahanan negara. Aksi ini juga menjadi ajang konsolidasi bagi berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian yang sama terhadap isu ini.

Meskipun aksi tolak UU TNI yang digelar Aliansi Jogja Memanggil di depan Gedung Agung Yogyakarta berlangsung dengan damai aparat kepolisian tetap berjaga untuk memastikan keamanan dan ketertiban. Massa aksi menyampaikan komitmen untuk terus melakukan perlawanan konstitusional dan menggelar aksi-aksi serupa di masa mendatang hingga tuntutan mereka didengar dan UU TNI yang dianggap bermasalah tersebut ditinjau kembali.